Negeri Wentira yang tak kasat mata



     Wentira merupakan nama salah satu kawasan di Palu,Sulawesi Tenggara. Lokasi nya disekitar area kebun kopi. Disana tidak ada pemukiman warga,hanya ada pohon pohon tinggi berwarna keputih putihan ditandai dengan sebuah jembatan yang bernama jembatan merah. Kabarnya disana terdapat pintu gerbang menuju dimensi dunia lain yang dikenal dengan nama Negeri Wentira. Pintu gerbang negeri ini ditandai dengan tugu berwarna kuning.Pintu gerbang Negeri Wentira hanya bisa dilihat oleh orang orang yang mempunyai kemampuan melihat hal hal gaib. Untuk bisa ke Negeri Wentira,tidak sembarangan,hanya yang dikehendaki dan diizinkan oleh penghuni Wentira yang boleh masuk.Ada yang percaya Wentira palu sebagai kota jin,ada juga yang percaya sebagai suatu kota gaib yang konon sebagai warisan benua atlantis yang telah lama hilang.


Konon katanya,peradaban di Negeri Wentira sangat maju dan modern. Penduduknya disana hidup dengan sejahtera dan tidak ada seorangpun yang hidup susah.Kehidupan di Wentira layaknya kehidupan normal. Menurut cerita masyarakat sekitar,kadang kadang ada penghuni Wentira yang keluar untuk berbelanja di pasar tradisional. Ciri ciri utama penghuni Wentira adalah tidak ada garis pemisah diatas tengah bibir. Ada juga cerita tentang seseorang yang memesan sebuah mobil BMW i series warna kuning dengan memberikan alamat “WENTIRA”.
Dan hebohnya, yang memesan itu adalah “seorang pria tua” tanpa ada keanehan sama sekali menurut sales promotion perusahaan tersebut.
lalu setelah di mobil tersebut di antar, ternyata tempat yang mereka datangi hanyalah hutan lebat. Kisah lainnya dialami oleh Azizah seorang wanita tomboy dan ibunya tinggal di Biromaru KAB.SIGI yang sedang bepergian meninggalkan kota Palu untuk berangkat ke kota Poso.
Peristiwa ini terjadi 4 tahun lalu.



Pada saat itu mereka berangkat dari kota Palu menuju kota Poso pada jam 10 malam. Di tengah perjalanan ibu Azizah ngantuk berat dan tak bisa lagi untuk menahan rasa ngantuknya. Ibu Azizah berkata pada Azizah "Ijah ane mamala mengelo tampa maturumo ruru kita, naroyo gagamo mataku hi eva domo mamala kutaha" yang artinya "Ijah kalau bisa kita cari tempat tidur saja dulu, mama sudah ngantuk sekali ini sudah tidak bisa mama tahan". dan kebetulan pada saat itu Azizah sudah merasakan ngantuknya menjawab "iya ma". Berselang 10 menit berjalan mengendarai motor mereka melihat sebuah Rumah Makan dan Tempat peristrahatan yang mewah di Kota yang begitu besar dan di diami oleh ribuan bahkan jutaan penduduk. kemewahannya mengalahkan kemewahan Rumah Makan dan Tempat peristrahatan yang pernah di kunjunginya di kota Palu dan besar kota itu seperti besar kota yang ada di luar negeri seperti Paris, tutur Azizah dan Ibunya. Mereka berduapun heran dan bertanya-tanya dalam hati kota apakah ini ? dengan memberanikan diri mereka menuju ke tempat peristrahatan itu karena tidak tahan lagi ingin tidur. ketika mereka melangkahkan kaki menuju tempat peristrahatan tersebut. Azizah di sapa oleh seorang aki-aki yang duduk di bawah pohon yang sangat besar (Pohon Nunu) dengan memakai pakaian yang sangat kotor. "Anda dari mana dan mau kemana nak?" tanya aki. "saya dan ibu dari Palu mau pergi ke Poso jenguk keluarga yang sakit " jawab Azizah.Spontan aki itu memberikan ia nasihat, "Hai anak mudah janganlah kau banyak-banyak meluangkan waktumu di Kota ini karena kota ini akan memintamu untuk tinggal di sini selamanya." Azizah pun terkejut dan bertanya kepada aki tersebut, "ki apa nama kota besar ini ?" aki menjawab "Nama kota ini adalah Kota UWENTIRA" Setelah mendengar nama itu bulu kuduk Azizah pun merinding dan ia mulai menengokkan kepalanya di sisi demi sisi kota wentira tersebut. Setelah ia ingin bertanya lagi kepada aki itu di palingkannya kepalanya dan terkejut melihat aki sudah tidak ada entah tau kemana. Iapun berlari kepada ibunya yang hendak baring di sofa empuk dan menarik ibunya untuk segera pergi dari tempat itu karena setelah mendengar nasihat aki tersebut. Ia paham bahwa kota ini bukan kota di alam nyata melainkan kotanya makhluk gaib. Ibunya terkejut dan bertanya "Nakuya Ijah ? (Kenapa Ijah ?" ibunya bertanya berulang ulang kali tapi Azizah tdk menjawab 1 pun pertanyaan dari ibunya dan terus menarik ibunya untuk pergi dari tempat itu. Sebelum mereka meninggalkan Kota besar itu Azizah memberikan tanda denga merobek sehelai bajunya dan mengikatnya di sebuah pohon kecil yang berada di depan pintu masuk kota tersebut.

Setelah 2 hari di poso, mereka pun pulang ke Palu. saat mereka pulang dari Poso menuju Palu, di sepanjang perjalanan Azizah menengok kekiri dan kekanan. Ibunya bertanya "nakuya ijah ? dako pangane iko aga ngali hau ngali tumai kaupuna kita aga mapola ranjalu " artinya "ada apa Ijah ? dari tadi kau hanya tengok sana tengok sini terakhir kita hanya jatuh di jurang nnti ".
" Tidak ma ada yang mau saya lihat di sekitaran jalan yang kita lewati ini jawab Azizah. tak lama kemudian Azizah pun melihat kain baju yang di ikatkannya di pohon kecil di pintu masuk kota besar tersebut 2 malam yang lalu. dan ia terkejut ternyata keindahan kota yang mereka lihat 2 malam yang lalu hanyalah sebuah jembatan dan sebuah pondok peristrahatan yang kecil beserta hutan dan jurang yang berada di sekelilingnya. Ia pun hanya diam dan tidak bercerita apapun sepanjang perjalanan pulang kepalu. Hingga kini Azizah tidak bisa melupakan kejadian yang di alaminya 4 tahun yang lalu.
Warga di sekitar Wentira mengatakan, apabila ada kendaraan lewat daerah tersebut harus membunyikan klakson 3X agar perjalanan mereka lancar sampai tujuan.ß

Komentar